Training Need Analysis

By | January 28, 2019

Training/pelatihan K3 merupakan salah satu persyaratan dalam penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PP No. 50 tahun 2012) dan ISO 45001. Dimana, organisasi harus mengembangkan standar pelatihan bagi seluruh individu di lingkunganya. Hal ini sesuai dengan filosofi IASP (International Assosiation of Safety Professional), pekerja harus dilatih mengenai K3. Pemahaman atau budaya K3 tidak datang dengan sendirinya, namun harus dibentuk melalui pelatihan dan pembinaan. Pelatihan dimaksudkan untuk memastikan pekerja kompeten (termasuk kemampuan dalam hal mengidentifikasi bahaya), sehingga harus dirancang sesuai dengan kebutuhan pekerja.

Sebuah kegiatan training K3 yang dibutuhkan harus melalui proses analisa kebutuhan training (Training Need Analysis) yang baik. Training Need Analysis (TNA) adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi masalah yang muncul di tempat kerja. TNA juga dilakukan untuk menentukan apakah pelatihan yang diberikan kepada karyawan sesuai atau tidak. (humancapitaljournal.com)

TNA yang dilakukan dilakukan dengan 3 tahapan:

  1. Analisis Organisasi, Kebutuhan/tujuan perusahaan dan pemenuhan aturan yang berlaku. Misalnya perusahannya memiki visi untuk menghasilkan suatu produk berbasis excellent engineering dengan paduan system informasi mutakhir. Maka segala sesuatu baik dari system pelaporan harus berbasis system informasi. Jadi dibuatlah SIM HSE sebagai aplikasi untuk memudahkan tata cara pelaporan dokumen-dokumen HSE ke Pusat/HO seperti (HSE Daily, Weekly dan Monthly Report). Basicnya karna ada suatu penyebab atau cause mungkin karena pelaporan manual dianggap kurang tepat lagi dengan perkembangan zaman dan menghasilkan banyak sampah-sampah kertas dan bisa untuk menghemat biaya. karena saya berlatar bekanag pendidikan HSE maka saya mencoba mengambil sampel dalam bidang HSE. HEHEHE. Sehingga training yang dibutuhkan adalah terkait Sofware system informasi tadi yaitu Training penggunaan SIM HSE. Point Pertama selesai. Lanjut 😀

  2. Analisis Pekerjaan dan Tugas, Pendekatan khusus ini memanfaatkan hasil dari kegiatan analisis jabatan yang harus dilakukan secara khusus. Kegiatan analisis jabatan akan dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan harus berhasil mengidentifikasi ”dimensi dan level kompetensi” yang harus dimiliki oleh pemegang tiap jabatan. Semua elemen kompetensi yaitu: pengetahuan, kemampuan, keterampilan, minat, sikap dan sistem nilai yang diperlukan, harus diidentifikasi dan disebutkan tingkat (level) yang harus dicapai. Nah ini berbicara lebih kepada Departemen yang mana saja sih yang akan dilakukan traning SIM HSE, nah jawabannya tentu Departemen HSE

  3. Analisis Individu, Mengidentifikasi siapa atau karyawan mana yang membutuhkan pelatihan dan pelatihan apa saja yang perlu diberikan. Untuk itu perlu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki tiap karyawan yang meliputi:

  1. Penentuan metode pengukuran kemampuan (pengetahuan, sikap dan tindakan)

  2. Penyusunan instrumen pengukuran kemampuan

  3. Pengukuran kemampuan di lapangan

  4. Pengolahan hasil pengukuran kemampuan

  5. Gambaran hasil pengukuran kemampuan

Sejalan dengan pembahasan diatas, karna akan dilakukan pelatihan SIM HSE, maka yang menjadi pertanyaan siapa yang dilibatkan dalam pelatihan ini, apakah Foreman, Derrickman, Welder, ataukah Safetyman? Tentunya yang mendapat pelatihan ini adalah Seorang HSE Officer.

Setelah semua data terkumpul, maka tindakan selanjutnya adalah implementasi dari rekomendasi pelatihan, biasanya dengan cara:

  1. Informal training

  2. Formal training

  3. Off the job Training

Untuk merealisasikan hasil dari TNA, maka ada beberapa prinsip-prinsip dari TNA yang harus diperhatikan:

  • Realistik, artinya Rasional dan dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan kemampuan daya, dana dan sarana serta waktu yang tersedia sesuai dengan tingkat perkembangan program.

  • Sistimatik, artinya Rumusan yang dihasilkan disusun secara teratur, berurutan dan berlanjut. Keterkaitan antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya harus jelas, tidak berdiri sendiri dan mengarah pada proyeksi masa yang akan datang.

  • Terarah, artinya Hasil rumusan harus terarah kepada satu tujuan organisasi, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang

Andi Balladho Aspat Colle, mahasiswa pasca sarjana usahid jakarta program studi manajemen keselamatan kesehatan dan lingkungan

Referensi:

Ramli, Soehatman. 2013. Smart Safety Panduan Penerapan SMK3 yang Efektif. Jakarta: PT. Dian rakyat

www.ccg.co.id/articles/Training-Needs-Analysis.pdf

www.dinus.ac.id/repository/docs/ajar/TNA_(pertemuan_ke-2).ppt

www.humancapitaljournal.com

http://pakarkinerja.com/analisa-kebutuhan-pelatihan-atau-training-need-analysis-tna/ Yodhia Antariksa, Msc in HR Management Texas A&M University, USA Penerima Beasiswa Fulbright

One thought on “Training Need Analysis

  1. Hairstyles

    It抯 actually a great and helpful piece of information. I抦 glad that you just shared this helpful info with us. Please stay us up to date like this. Thanks for sharing.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *