Strategi Belajar Mengajar Untuk Orang Dewasa – Pelatihan K3

By | March 20, 2017

Artikel ini saya buat untuk sharing pengalaman saya sebagai seorang instruktur internal perusahaan untuk pelatihan K3 dimana para partisipan traningnya adalah orang dewasa dengan latar belakang yang berbeda beda (budaya, pendidikan, pekerjaan, motivasi, dan sebagainya). Tulisan saya saat ini mungkin bisa dijadikan input untuk para internal trainer atau instruktur di suatu perusahaan/institusi.

Tentunya akan sangat berbeda ketika sebagai seorang trainer atau instruktur untuk menjalankan sebuah pelatihan dengan partisipan anak-anak atau remaja, bahkan orang dewasa di bangku kuliah dibandingkan dengan partisipan yang sedang bekerja yang notabene mereka ada di tempat tersebut atau perusahaan itu tujuan dan motivasi mereka adalah untuk mencari uang bukan lagi belajar. Contoh kalimat-kalimat yang sering muncul ketika mereka berada di sebuah kelas pelatihan, “saya sudah lupa caranya belajar Pak”, “saya tidak terbiasa duduk di kelas Pak”, “pulangnya jam berapa Pak? Lebih cepat lebih baik”, “training ini berpengaruh gak pak di gaji saya?”. Sebagai seorang trainer atau instruktur ketika bahkan kelas belum dimulai dan sudah mendengar kalimat-kalimat tersebut, jika tidak mempunyai strategi untuk mengatasinya bisa dipastikan kelas pelatihan tidak akan bisa berjalan dengan baik.

Berikut adalah beberapa strategi yang bisa kita terapkan untuk pelatihan K3 dengan partisipan orang dewasa yang bekerja supaya aktifitas belajar mengajar di kelas pelatihan bisa hidup dan berjalan dengan baik:

1. KUASAI MATERI TRAINING SEBAIK MUNGKIN
Partisipan training anda adalah orang-orang dewasa yang berpengalaman kerja di bidangnya. Akan ada kecenderungan mereka membandingkan pengalaman kerja mereka dengan materi training yang kita bawakan dan mungkin akan muncul pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan pekerjaan mereka. Bahkan mungkin mereka akan mencoba mengajukan pertanyaan untuk hanya “tes-tes” saja. Jika anda tidak siap, dan kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu bisa jadi kepercayaan diri anda akan jatuh dan kepercayaan peserta training pada anda pun akan pudar. Untuk mengatasinya bacalah materi training beberapa hari sebelum training dilaksanakan. Buatlah catatan kecil untuk poin-poin penting training tersebut. Antisipasi pertanyaan yang mungkin muncul, dan konsultasikan jawabannya dengan ahlinya atau carilah referensi yang relefan. Identifikasi istilah-istilah yang tidak familiar. Perlu anda ketahui bahwa sebagai seorang instruktur anda akan dianggap sebagai “orang yang tahu segalanya” maka penguasaan tentang materi training adalah hal yang sangat krusial.

2. YAKINKAN PARTISIPAN BAHWA TRAINING TERSEBUT PENTING BAGI MEREKA
Dalam pelatihan K3 banyak hal yang bisa kita gunakan untuk meyakinkan partisipan bahwa training itu penting untuk mereka. Sebagai contoh, instruktur bisa menyebutkan bahwa ada peraturan perundangan yang mewajibkan mereka mengikuti training tersebut. Instruktur juga bisa menyebutkan bahwa ketika mengikuti training tersebut mereka bisa mendapatkan ilmu atau pengetahuan yang bisa membantu mereka supaya tidak terjadi kecelakaan, karena keluarga mereka menunggu di rumah dan ingin mereka kembali dengan selamat. Orang dewasa akan lebih mau untuk menerima sesuatu jika mereka tahu kegunaannya bagi mereka.

3. GUNAKANLAH PENGALAMAN DARI PESERTA TRAINING
Perlu diingat bahwa para partisipan training terdiri dari karyawan yang berlatar belakang pengalaman dan pendidikan yang berbeda. Identifikasi partisipan yang berpengalaman kerja cukup tinggi, kemudian ajukan pertanyaan dan minta partisipan tersebut untuk menjawab berdasarkan pengalamannya. Sharing pengalaman di kelas selain membuat kelas menjadi lebih hidup juga akan memberikan pengetahuan bagi peserta training yang mungkin belum cukup berpengalaman. Anda sebagai instruktur memang harus menguasai materi pelatihan, tapi tidak ada salahnya kita menggunakan pengalaman peserta training sebagai poin diskusi.

4. JANGAN TERLALU BANYAK BICARA/MEMBACA SLIDE PRESENTASI
Identifikasi kembali partisipan training anda. Jika partisipan training anda adalah orang-orang yang kebanyakan adalah pekerja lapangan, dan anda terlalu banyak bicara di depan kelas bisa dipastikan para partisipan training tersebut akan dengan lelapnya tertidur di kelas. Karyawan yang bekerja di lapangan, biasanya sehari-hari mereka lebih beraktifitas secara fisik, dan untuk duduk di dalam kelas dalam waktu lama saja sudah hal yang sulit bagi mereka, apalagi sambil mendengarkan orang berbicara. Mereka akan bagai di “nina bobo” kan oleh instrukturnya. Untuk mengatasinya, siapkanlah pertanyaan-pertanyaan singkat yang berhubungan dengan materi training, dan bertujuan untuk mengeksplor pengetahuan mereka. Tentu saja pertanyaan tersebut juga untuk menghidupkan diskusi di dalam kelas.

5. GUNAKANLAH HUMOR
Penggunaan humor di dalam kelas bisa membantu para partisipan training untuk merasa nyaman dan mau untuk membuka diri untuk mengikuti pelatihan. Bayangkan saja jika anda mengikuti training dan melihat instrukturnya masuk ke kelas dengan muka muram atau pasang tampang “sok seram”, saya bisa yakinkan bahwa kelas akan berjalan dengan ketegangan yang membuat suasana training tidak nyaman atau bahkan kelas tersebut tidak akan hidup. Seorang peneliti pendidikan bernama Mary Kay Morrison mengatakan bahwa otak menunjukkan adanya peningkatan aktifitas di berbagai area di otak ketika humor disisipkan di dalam diskusi ataupun instruksi. Yang perlu diperhatikan dari penggunaan humor adalah batasan humor itu sendiri. Jangan menggunakan humor yang menyinggung secara fisik, rasial, agama, ataupun hal-hal bersifat sensitif lainnya.
Itulah beberapa strategi yang bisa saya bagikan saat ini, semoga bisa bermanfaat untuk para pembaca. Dan masih banyak strategi-strategi lain yang bisa kita gunakan ketika kita membawakan training dengan partisipan orang dewasa, jangan batasi diri anda karena setiap trainer/instruktur pasti punya gaya dan cara yang berbeda. Kesuksesan sebuah pelatihan sangat tergantung pada kemampuan pengelolaan kelas seorang trainer/instruktur.

-Rendy Endrawan-

2 thoughts on “Strategi Belajar Mengajar Untuk Orang Dewasa – Pelatihan K3

  1. Dwi Pudjiarso

    1. Tentang kuasai materi training. Sebaiknya jangan pernah mengajarkan topik pelatihan yang kita belum pernah menjalankan sendiri. Bahkan harusnya sudah pernah menjalankan, dan sudah punya sukses story. Bagi orang safety, lakukan dengan membantu penerapan program itu di lapangan sampai memahami betul kesulitan-kesulitannya.
    2. Gunakan pengalaman peserta. Setuju sekali, ini saya sebut engagement. Mengquote komentar-komentar peserta (tentu yang sejalan dengan topik) merupakan kekuatan untuk acceptance pelatihan dari para peserta. Jelaskan di bagian mana topik training ini akan dipraktekkan di lapangan. Bagaimana keterampilan itu membantu ia melakukan pekerjaannya lebih mudah dan mengantarkannya menjadi pengawas profesional. Siapkan action plan untuk itu di akhir kelas.
    4. Jangan baca slide. Setuju. Proses pelatihan yang baik, adalah instruktur melempar pertanyaan-pertanyaan, dengan mengarahkan peserta memberikan jawaban yang kita harapkan (KUK dari topik pelatihan itu). Tabu instruktur memberi jawaban atau menjawab sendiri pertanyaannya. Jadi isi pelatihan itu hanya apresiasi peserta terus. Sehingga peserta tidak mungkin mengantuk.
    5. Humor. Ini perlu tapi jaga agar tidak kebanyakan. Miliki bank humor yang pendek, sedang, dan panjang. Keluarkan sesuai kebutuhan, contohnya karena suasana kelas sudah membutuhkan. Ada instruktur yang humor terus sepanjang kelas, materinya numpang saja. Ini kebalik.

    Semoga bermanfaat

    Reply
    1. admin Post author

      Pendekatan coaching setelah training menjadi popular untuk mendekatkan materi ke peserta. Salah satu metode yang diterapkan adalah TGROW yaitu Topic, Goal, Reality, Options, Way forward. Peran pengawas sebagai coach sangat signifikan dalam kesuksesan metode ini dengan berfocus pada coachee

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *